PROFIL SMA NEGERI 5 SEMARANG


 
Rekapitulasi Sekolah
SMAN 5 SEMARANG
33 siswa
72 guru
- jurusan
- kelas
- pelajaran
- ekstrakurikuler
sumber: database SIAP Administrasi 2.0
Info Sekolah
SMAN 5 SEMARANG
NPSN 20328893 
NSS 301036306005 
Nama SMAN 5 SEMARANG 
Akreditasi
Alamat JL PEMUDA 143 SEMARANG 
Kodepos 50132 
Nomer Telpon 0243543998 
Nomer Faks 0243583680 
Email sman5smg@gmail.com 
Jenjang SMA 
Status Negeri 
Situs sman5smgl.com 
Lintang -90 
Bujur 90 
Ketinggian
Waktu Belajar
Lokasi Sekolah
SMAN 5 SEMARANG
Kota Kota Semarang 
Propinsi Jawa Tengah 
Kecamatan Semarang Tengah 
Kelurahan
Kodepos 50132 


SMA Negeri 5 Semarang berada dalam posisi yang serba menguntungkan. Lokasinya strategis, berada di jantung Kota Semarang, sarana-prasarana ditata secara menarik dan cukup representatif untuk kegiatan proses pembelajaran. Sistem manajemen kependidikan digarap secara serius sehingga mampu meningkatkan etos kerja yang lebih peduli terhadap perkembangan peserta didik. Peserta didik yang berminat belajar di SMA Negeri 5 Semarang juga kategori bernilai baik. Inilah yang kemudian SMA Negeri 5 Semarang menjadi salah satu sekolah pilihan bagi calon siswa dan orang tua di antara sekian sekolah favorit di Semarang.

Keberadaan seperti ini tidak datang dengan sendirinya  melainkan melalui proses  panjang  dan penuh  perjuangan. Semua sektor harus bekerja keras dan mampu bekerja sama dengan baik. Dalam upaya mencapai tujuan yang dinginkan agar SMA Negeri 5 Semarang memperoleh kemajuan yang lebih berarti, maka berikut ini merupakan gambaran sekilas SMA Negeri 5 Semarang, mulai dari sejarah, potensi yang dimiliki, dan berbagai prestasi yang pernah dicapai.

Lahir di Komplek Kepolisian

Tahun 1964, waktu itu jumlah SMA Negeri di Semarang baru ada empat sekolah. SMA swasta pun jumlahnya masih sedikit. Padahal jumlah siswa SMP yang ingin melanjutkan ke  jenjang  pendidikan yang lebih tinggi cukup banyak. Sedangkan untuk membuka SMA baru  sangat berat karena kondisi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok saja, masyarakat mengalami kesulitan apalagi membiayai pendidikan atau mendirikan lembaga pendidikan.

Dalam kondisi sesulit apapun anak-anak harus tetap sekolah. Tekad dan semangat yang tumbuh  di masa itu. Ini terbukti dengan adanya kepedulian sebagian masyarakat  yang bertempat tinggal di kawasan  Candi Baru. Mereka merasa terpanggil untuk ikut  bertanggung jawab terhadap pendidikan  masa depan  generasi muda. Seperti Notaris R.M. Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo.

Kesadaran bahwa generasi muda adalah kekuatan pembangunan di masa depan  dan hanya dengan kecerdasan mereka  dapat berbuat sesuatu  bagi bangsa dan negaranya, maka langkah selanjutnya adalah menggalang kerjasama dengan Perwakilan  P & K Provinsi Jawa Tengah sekarang (Kantor Dinas Pendidkkan dan Kebudayaan). Tepat pada tanggal 1 Agustus 1964 berdirilah SMA Negeri 5 Semarang, dan Drs. Muh. Sahid ditunjuk sebagai Kepala Sekolah.

Pendirian SMA Negeri 5 Semarang di masa sulit membawa konsekuensi yang sangat berat,  karena  belum mempunyai bangunan sekolah, tenaga pengajar banyak yang tidak proporsional serta tenaga tata usaha sangat terbatas. Tingginya kesadaran  masyarakat tentang perlunya pendidikan mendorong berbagai pihak  untuk segera mewujudkan  terselenggaranya proses belajar mengajar di SMA Negeri  5 Semarang.

Dihadapkan situasi yang serba sulit untuk mencari tempat, ada instansi berbaik hati, yaitu POLRI dengan meminjamkan beberapa lokal PUSDIK POLRI  untuk dijadikan  kelas dan ruang kantor, walaupun letaknya terpencar. Akhirnya Perwakilan  P & K Provinsi Jawa Tengah membantu  berupa peminjaman tenaga  pengajar dan staf tata usaha  dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri  Semarang, dengan satu-satunya guru tetap  adalah kepala sekolah. Sedangkan biaya operasional  penyelenggaraan  pendidikan ditanggung  oleh  Persatuan Orang Tua  Murid dan Guru (PMOG), dengan  pengurus harian antara lain R.M. Suprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunarjo.

Dengan  keterbatasan itulah, justru melahirkan kekompakan dan semangat  kebersamaan di antara guru dan siswa. Ini terlihat  pada tingginya sense of belonging (rasa memiliki) dari para siswa yang tercermin dalam proses pembelajaran yang tertib dan  lancar.  Semua dilaksanakan  dengan bertanggung jawab  dan penuh rasa bangga.

Setelah melihat perkembangan yang semakin baik, maka SMA 5 Semarang dipindahkan  menjadi satu kampus dengan SPG Negeri Semarang di Kagok  Jalan Sultan Agung Semarang (sekarang untuk SMA dan AKS Kartini), dengan menempati  6 lokal/kelas.

Satu kampus untuk dua sekolah tidak menimbulkan masalah, bahkan dilihat dari segi administratif maupun proses belajar mengajar  dapat dikatakan efektif. Penyatuan kampus  ini secara psikologis berpengaruh  terhadap etos kerja  para tenaga pengajar  dan staf tata usaha. Demikian pula para siswa, suasana sekolah  yang tidak berada dalam  komplek kepolisian, merasa lebih bebas untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Waktu terus berjalan dan seiring dengan perkembangan SMA Negeri 5 Semarang yang cukup membanggakan, maka guru dan para pengurus PMOG  dituntut mampu  mengatasi permasalahan  yang akan muncul pada  tahun ketiga  ajaran baru, yaitu kebutuhan penambahan  lokal.  Jika permasalahan  ini selalu muncul  di setiap tahun ajaran baru, kapan SMA Nageri 5 Semarang dapat memiliki kampus sendiri.

Keinginan ini sulit diwujudkan, karena bersamaan dengan  tahun meletusnya  peristiwa G 30 S kondisi ekonomi dan sosial  masyarakat sangat memprihatinkan. Keinginan untuk dapat memiliki gedung sekolah sendiri  dalam jangka waktu dekat  semakin jauh dari angan-angan.

Perjuangan Memiliki Kampus Sendiri

Dengan keberhasilan pemerintah menumpas Gerakan 30 September, lalu disitalah beberapa  aset  yang dimiliki oleh PKI, seperti gedung  sekolah. Dengan sigap para pengelola SMA Negeri 5 Semarang mengajukan permohonan kepada pemerintah  untuk  memanfaatkan gedung bekas sekolah “ Wha Ing”  di jalan Pemuda yang ditutup karena  keterlibantan para pengelolanya dalam Pemberontakan G 30 S.

Permohonan itu ditolak karena  gedung bekas sekolah “Wha Ing” akan dipergunakan  oleh IKIP Negeri Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang). Ditolaknya pemohonan tersebut  tidak membuat para guru dan staf tata usaha serta pengurus PMOG dan siswa menjadi patah arang. Justru sebaliknya malah menambah besar  semangat mereka dalam berjuang.

Pada tanggal 20 Januari 1966, para guru, Staf Tata Usaha dan seluruh siswa dengan mengenakan  pakaian serba putih  berjalan kaki dari Candi mendatangi kantor Perwakilan P& K (yang waktu itu berada di Jalan Ki Mangunsankoro), kembali mengajukan permohonanya. Unjuk rasa yang dilakukan secara damai ini  ditanggapi dengan baik  oleh Perwakilan P& K waktu itu (Slamet).

Setelah bernegosiasi dihasilkan beberapa butir  kesepakatan anatara lain:

  1. permohonan SMA 5 Semarang dikabulkan,
  2. untuk sementara diizinkan menempati 6 lokal,
  3. kebutuhan lokal tahun pelajaran baru  akan ditinjau  lebih lanjut.

Keputusan itu diterima dengan sukacita  oleh segenap guru, staf TU, pengurus PMOC terlebih-lebih para siswa SMA Negeri 5 Semarang. Atas dasar itulah, maka pada tanggal 23 Januari  1966 dilakukan kerja bakti membersihkan ruangan yang akan ditempati. Sejak saat pula, penyelenggaraan belajar-mengajar SMA Negeri  5 Semarang  berlangsung di bekas sekolah “Wha Ing”  bersama dengan IKIP Negeri Semarang  dan proses belajar-mengajar berjalan dengan normal.

Waktu terus bergulir, tidak terasa kenaikan kelas  telah tiba dan tahun  pelajaran barupun berlangsung. Dengan hanya mempunyai 6 lokal, terpaksa  pembelajaran dilakukan dengan cara  bergiliran dalam penggunaan ruangan kelas.

Selanjutnya pada bulan September  1966, pihak SMA Negeri 5 Semarang mengajukan permohonan lisan  maupun tertulis kepada IKIP Negeri Semarang untuk dapat menggunakan 3 lokal yang kosong. Permohonan ditolak oleh pihak IKIP. Karena didorong oleh kebutuhan  dan keinginan yang mendesak agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan lancar, maka secara paksa lokal kosong tersebut diduduki oleh siswa SMA Negeri 5 Semarang untuk dipakai sebagai kelas.

Akibatnya ketegangan pun terjadi  terutama  antara siswa SMA Negeri 5 Semarang dengan pihak IKIP Negeri Semarang. Masing-masing mempertahankan  untuk saling menduduki. Setiap malam para siswa bergantian  berjaga-jaga. Satu hal yang patut disyukuri, walaupun  konflik antara siswa SMA Negeri 5 Semarang dengan mahasiswa IKIP Negeri Semarang cukup mencekam, namun bentrokan fisik  dapat dihindari.

Dalam upaya menyelesaian konflik tersebut, maka tanggal 1 Desember 1966 KODIM memanggil Kepala Sekolah  SMA Negeri 5 Semarang, Drs. Muh. Sahid dan pihak IKIP Negeri Semarang untuk dimintai keterangan. Debat adu argumentasi  antara kedua belah pihak  yang bersengketa  berlangsung seru dan masing-masing mengeluarkan dokumen  untuk mendukung argumentasi.

Penyelesaian konflik ini, SMA Negeri 5 Semarang  berada dalam pihak yang diuntungkan, karena diizinkan  secara resmi  menggunakan tiga lokal tersebut. Dengan dimilikinya  tiga lokal tambahan, maka proses pembelajaran  semakin berjalan tertib, lancar, dan aman.

SMA Negeri 5 Semarang sebagai Pilot PPSP di Jawa Tengah

Pada tahun 1971 SMA Negeri 5 Semarang sebagai satu-satunya  sekolah di Jawa Tengah  yang menjadi Pilot Proyek  Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). Sebagai pilot PPSP, di sekolah ini berlangsung  pendidikan 11 tahun.  Artinya sejak saat itu  SMA Negeri 5 Semarang juga menyelenggarakan  pendidikan secara terpadu  dan berkseinambungan, sejak dari SD, SMP hingga SMA. Sejak saat itu pula, bekas sekolah “Wha Ing” di jalan Pemuda,  bangunan dan semua isinya, seratus persen menjadi kampus SMA Negeri 5 Semarang.

D. Prestasi

Perkembangan selanjutnya SMA Negeri 5 Semarang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Banyak prestasi yang diperoleh, antara lain dalam bidang akademik pernah menjuarai lomba astronomi (Fisika) tingkat nasional dan sering menjuarai lomba mata pelajaran lain pada tingkat Jawa Tengah. Dalam bidang olah raga, tim SMA Negeri 5 Semarang pernah menjuarai lomba basket tingkat Jawa Tengah. Demikian juga dalam bidang seni, melalui Teater Lima pernah memperoleh nominasi grup pemain teater terbaik pada tingkat Jawa Tengah.

Dari sisi lain, guru SMA Negeri 5 Semarang juga banyak yang berprestasi. Kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa guru yang terpilih sebagai nominasi guru teladan. Ada pula yang mendapat kesempatan mengikuti studi banding ke luar negeri dengan harapan bahwa pengalaman dan pengamatannya terhadap pendidikan dapat memacu perkembangan SMA Negeri 5 Semarang.

Selain beberapa prestasi di atas, masih banyak prestasi lain yang dapat membawa nama harum SMA Negeri 5 Semarang. Misalnya, prestasi dalam bidang kemampuan berbahasa Inggris, karya ilmiah, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Nama-nama Kepala SMA Negeri 5 Semarang

No. Nama Kepala Sekolah Masa Jabatan
1 Drs. H. Muhammad Sahid 1964 – 1974
2 Drs. Samekto 1974 – 1988
3 Drs. Soeramto 1988 – 1994
4 Drs. H. M. Cholil Saleh 1994 – 1995
5 Drs. H. M. Toha Makawi 1995 – 1997
6 Drs. T. Budhi Prayitno 1997 – 2000
7 Drs. L. Sunoto, M.Pd. 6 bulan (PJS)
8 Drs. H. Ken Endar Supardjo 2000 – 2002
9 Drs. H. Purwandi, M.Pd. 2002 – 2005
10 Drs. Widodo, M.Pd. 2005 – 2009
11 Drs. Waino S, S.Pd, M.Pd. 2009 – sekarang

Data Sekolah

a.  Sekolah

  1. Nama Sekolah                         : SMA Negeri 5 Semarang
  2. NSS                                         : 301036306005
  3. Terakreditasi                           : A
  4. Tahun didirikan                       : 1 Agustus 1964
  5. Status Sekolah                        : Negeri
  6. Alamat Sekolah                       : Jl. Pemuda 143 Semarang
  7. Telpon                                     : 3543998; 3583680; Fax 544295

b.   Kepala Sekolah

Nama Lengkap                           : Drs. Waino S, S.Pd, M.Pd.

Pendidikan Terakhir                   : S.2

Jurusan                                       : Fisika

Pelatihan yang pernah diikuti    :

Tahun Nama Pelatihan Lama Pelatihan
1989

1990

1992

1994

Instruktur PPPG Bandung

Instruktur

STTPL

STTPL

160 jam

175 jam

81  jam

75  jam

Sebagai Kepala Sekolah

diangkat pertama kali pada                   : 01 Mei 1987

di sekolah ini tanggal/tahun                   : 13 November 2009

c.   Peserta Didik

  1. Kondisi Peserta Didik
Tahun Jumlah Siswa Rasio Siswa yang Diterima dan Pendaftar
2004-2005 1153 1 : 3
2005-2006 1097 1 : 3
2006-2007 1086 1 : 3
2007-2008 1089 1 : 3
2008-2009 1108 1 : 3
2009-2010 1059 1 : 3
  1. Komposisi Peserta Didik
Kelas Jumlah Kelas Jumlah Siswa
X 9 324
XI/IA 8 304
XI/1S 2 53
XII/IPA 8 314
XII / IPS 4 64
Jumlah 29 1059

3. Data NEM Masukan (kelas X Baru)

Tahun

Nem Tertinggi

Nem Terendah

Nem Rata-rata

2004-2005 53,93 49,90 51,92
2005-2006 28,34 25,33 26,84
2006-2007 30,25 21,75 26,00
2007-2008 41,25 26,23 33,79
2008-2009 38,20 31,95 35,08
2009-2010 43,1 33,95 38,1

4.  Data Keluaran (kelas XII)

Tahun

Program Nem

Tertinggi

Nem Terendah Nem

Rata-rata

2004-2005 IPA 26,67 17.50 23,32
IPS 27,00 17.17 22,75
Bahasa 27,17 21.16 24,87
2005-2006 IPA 29,07 23,73 26,40
IPS 26,55 23,89 25,22
Bahasa 26,20 22,60 24,40
2006-2007 IPA 28,80 17.67 24,63
IPS 27,50 16,10 24,34
Bahasa 27,60 21,40 25,94
2007-2008 IPA 53,55 28,45 44,42
IPS 53,00 40,15 46,73
2008-2009 IPA 54,05 33,50 43,78
IPS 49,30 29,10 39,2
Bahasa 47,55 32,80 40,2

5. Data Siswa Mengulang

Tahun

Kelas X Kelas XI Kelas XII Target Sekolah
2003-2004 0 0 0 0
2004-2005 0 2 0 0
2005-2006 1 0 0 0
2006-2007 0 0 5 0
2007-2008 2 0 2 0
2008-2009 0 0 - 0
2009-2010 0 0 1 0

6. Data Lulusan/Tamatan

Tahun Lulusan Rata-rata Nilai Siswa yang melanjutkan
Jml Lls % Hasil Target Jml Target
2003-2004 362 362 100 IPA=7,08

IPS=6,70

Bhs=6,80

6,25

6,25

6,25

90%

90%

90%

95 %

95 %

95 %

2004-2005 393 392 100 IPA=7,89

IPS=7,78

Bhs=8.43

6,50

6,50

6,50

90%

90%

90%

95 %

95 %

95 %

2005-2006 399 392 98,2 IPA=8,45

IPS=8,24

Bhs=8,31

7,0

7,0

7,0

90 %

90 %

90 %

95 %

95 %

95 %

2006-2007 366 363 99,2 IPA=8,21

IPS=8,11

Bhs=8,66

6,50

6,50

6,50

90%

90%

90%

95 %

95 %

95 %

2007-2008 342 341 99,7 IPA=7,41

IPS=7,79

7,0

7,0

90 %

90 %

95 %

95 %

2008-2009 371 368 99,2 IPA=7,83

IPS=7,27

Bhs=6,58

7,0

7,0

7,0

90%

90%

90%

95%

95%

95%

d.   Keadaan Guru

Pendidikan Guru Tetap (GT) Guru Tidak Tetap (GTT) Jumlah
S -2 6 - 6
S -1 62 9 71
D-3 - - -
D -2 / D-1 / SLTA - - -
Jumlah 68 9 77

e.   Sarana Prasarana

1. Ruang kelas                : a.  luas           = 1512 m2

b.  jumlah      = 28 ruang

2. Ruang laboratorium    : a.  luas           = 452 m2

b.  jumlah       =  6 ruang terdiri atas

- 1 Lab. Kimia       90   m2                – 1   Lab. Bahasa  60  m2

- 1 Lab. Biologi    100  m2                – 2   Lab. Komputer @112  m2

- 1 Lab. Fisika        90  m2

3. Perpustakaan              : a. luas                        = 96 m2

b. Jumlah judul          = 2586 ruang

c. Jumlah buku          = 4560

4. Ruang Olah Raga       : Luas                          = 96 m2

f. Kondisi  Orang Tua

Pekerjaan  dan Pendidikan

Pekerjaan (%) Pendidikan (%)
Pegawai Negeri 42,78 SLTA / Sarjana (S-3) 0,28
TNI / POLRI 13.20 SLTA / Sarjana (S-2) 2,61
Karyawan Swasta 41,42 SLTA / SLTP (S-1) 28.54
Pedagang 1,11 SLTA/SLTP(Diploma) 16.53
Petani 0,10

1,39

SLTP / SD (SLTA)

SLTP/SD(SLTP)

35.67

10.06

Lain-lain 1,39 SLTP / SD(SD) 6.31

 
Layanan ini diselenggarakan oleh TELKOM SOLUTION untuk dunia pendidikan di Indonesia. Mari kita majukan
bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna pada dunia pendidikan Indonesia.